Kerja Ahli Tauhid
Bagi Ahli tauhid, yang dipertimbangkan pertama bukan kemungkinan menang dan mulusnya jalan perjuangan. Tapi nilai diri, mesti utuh dulu dalam pandangan Alloh. Mesti jelas bahwa posisi diri benar-benar telah di pihak-Nya, yakin bahwa perjuangan ini nyata fi sabilillah. Ada pegangan bahwa diri tidak sedang bertindak dan beramal di sabiliththoghut.
Karenanya manakala Alloh tegas melarang kita berada di bawah kepemimpinan kafir, maka serta mertanya dicari kepemimpinan orang yang beriman, di luar struktur kafir tadi. Betapa dan apapun risikonya, perkara menang dan kalah itu soal biasa dalam perjuangan. Yang pokok ialah amal baro`ah sebagai uswah hasanah (Q.S. 60:4) mesti sudah terjalani, tidak jadi pihak yang menyatakan, minimal jadi pihak yang mendukung. Mati dalam keadaan pasca baro`ah, adalah yang diharap ahli tauhid.
Mereka tidak mau mati dalam keadaan tercatat di sisi Alloh sebagai warga Darul Kufar, sebab dalam hadits shohih riwayat Abu Dawud, walaupun tidak menyeru ataupun berperang untuk kebangsaan, mati saja di atasnya sudah cukup jadi sebab terlepasnya diri dari keanggotaan ‘ummat’ Muhammad Saw. Na`udzubillahi min dzalik.
Hidup dalam kerangka tauhid, meski belum menang, jauh lebih indah daripada bergelimang kemewahan tapi status diri sebagai warga Darul Kufar, jadi muslim dzimmi di tengah-tengah musuh Alloh. Bagi mu`minin, amat susah untuk hidup satu struktur, ba`duhum auliyaa-u ba`dhin dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya (Q.S. 58:22). Terdorong oleh inilah ia bahu membahu dengan saudaranya, memandaikan diri guna mencapai cita-cita luhurnya, bersiap-siap sambil menunggu tibanya kemenangan dipergilirkan Alloh ke pihak mereka, wujudnya Darul Islam.
Perkara sejak awal sudah berhadapan dengan struktur lain (thoghut), itu memang sudah seninya berjuang. Bukankah demikian sunnahnya perjuangan, sebagaimana Rosululloh Saw berhadapan dengan musyrikin Quraisy. Apa kita mau memilih pola perjuangan yang lain dari itu. Ahmadiyyah, mengaku penerus Muhammad Saw, tapi membatalkan jihad dan berwala kepada Inggris ? Berkoar-koar jadi Khalifah bagi muslimin dunia sebatas rohani, tapi jasmani boleh saja diatur negara masing-masing, apapun asas hukumnya, beginikah dulu Nabi Saw mengelola ummat ?
Renungkanlah baik-baik ..!!
Bagi Ahli tauhid, yang dipertimbangkan pertama bukan kemungkinan menang dan mulusnya jalan perjuangan. Tapi nilai diri, mesti utuh dulu dalam pandangan Alloh. Mesti jelas bahwa posisi diri benar-benar telah di pihak-Nya, yakin bahwa perjuangan ini nyata fi sabilillah. Ada pegangan bahwa diri tidak sedang bertindak dan beramal di sabiliththoghut.
Karenanya manakala Alloh tegas melarang kita berada di bawah kepemimpinan kafir, maka serta mertanya dicari kepemimpinan orang yang beriman, di luar struktur kafir tadi. Betapa dan apapun risikonya, perkara menang dan kalah itu soal biasa dalam perjuangan. Yang pokok ialah amal baro`ah sebagai uswah hasanah (Q.S. 60:4) mesti sudah terjalani, tidak jadi pihak yang menyatakan, minimal jadi pihak yang mendukung. Mati dalam keadaan pasca baro`ah, adalah yang diharap ahli tauhid.
Mereka tidak mau mati dalam keadaan tercatat di sisi Alloh sebagai warga Darul Kufar, sebab dalam hadits shohih riwayat Abu Dawud, walaupun tidak menyeru ataupun berperang untuk kebangsaan, mati saja di atasnya sudah cukup jadi sebab terlepasnya diri dari keanggotaan ‘ummat’ Muhammad Saw. Na`udzubillahi min dzalik.
Hidup dalam kerangka tauhid, meski belum menang, jauh lebih indah daripada bergelimang kemewahan tapi status diri sebagai warga Darul Kufar, jadi muslim dzimmi di tengah-tengah musuh Alloh. Bagi mu`minin, amat susah untuk hidup satu struktur, ba`duhum auliyaa-u ba`dhin dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya (Q.S. 58:22). Terdorong oleh inilah ia bahu membahu dengan saudaranya, memandaikan diri guna mencapai cita-cita luhurnya, bersiap-siap sambil menunggu tibanya kemenangan dipergilirkan Alloh ke pihak mereka, wujudnya Darul Islam.
Perkara sejak awal sudah berhadapan dengan struktur lain (thoghut), itu memang sudah seninya berjuang. Bukankah demikian sunnahnya perjuangan, sebagaimana Rosululloh Saw berhadapan dengan musyrikin Quraisy. Apa kita mau memilih pola perjuangan yang lain dari itu. Ahmadiyyah, mengaku penerus Muhammad Saw, tapi membatalkan jihad dan berwala kepada Inggris ? Berkoar-koar jadi Khalifah bagi muslimin dunia sebatas rohani, tapi jasmani boleh saja diatur negara masing-masing, apapun asas hukumnya, beginikah dulu Nabi Saw mengelola ummat ?
Renungkanlah baik-baik ..!!
