| HOME  |  Me n' Friends |  Artikel  |  Shiroh |  Taushiah |

Medan Bakti

We are the highest if we are mu'miniin

Friday, August 13, 2004

Kerja Ahli Tauhid

Bagi Ahli tauhid, yang dipertimbangkan pertama bukan kemungkinan menang dan mulusnya jalan perjuangan. Tapi nilai diri, mesti utuh dulu dalam pandangan Alloh. Mesti jelas bahwa posisi diri benar-benar telah di pihak-Nya, yakin bahwa perjuangan ini nyata fi sabilillah. Ada pegangan bahwa diri tidak sedang bertindak dan beramal di sabiliththoghut.

Karenanya manakala Alloh tegas melarang kita berada di bawah kepemimpinan kafir, maka serta mertanya dicari kepemimpinan orang yang beriman, di luar struktur kafir tadi. Betapa dan apapun risikonya, perkara menang dan kalah itu soal biasa dalam perjuangan. Yang pokok ialah amal baro`ah sebagai uswah hasanah (Q.S. 60:4) mesti sudah terjalani, tidak jadi pihak yang menyatakan, minimal jadi pihak yang mendukung. Mati dalam keadaan pasca baro`ah, adalah yang diharap ahli tauhid.

Mereka tidak mau mati dalam keadaan tercatat di sisi Alloh sebagai warga Darul Kufar, sebab dalam hadits shohih riwayat Abu Dawud, walaupun tidak menyeru ataupun berperang untuk kebangsaan, mati saja di atasnya sudah cukup jadi sebab terlepasnya diri dari keanggotaan ‘ummat’ Muhammad Saw. Na`udzubillahi min dzalik.

Hidup dalam kerangka tauhid, meski belum menang, jauh lebih indah daripada bergelimang kemewahan tapi status diri sebagai warga Darul Kufar, jadi muslim dzimmi di tengah-tengah musuh Alloh. Bagi mu`minin, amat susah untuk hidup satu struktur, ba`duhum auliyaa-u ba`dhin dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya (Q.S. 58:22). Terdorong oleh inilah ia bahu membahu dengan saudaranya, memandaikan diri guna mencapai cita-cita luhurnya, bersiap-siap sambil menunggu tibanya kemenangan dipergilirkan Alloh ke pihak mereka, wujudnya Darul Islam.

Perkara sejak awal sudah berhadapan dengan struktur lain (thoghut), itu memang sudah seninya berjuang. Bukankah demikian sunnahnya perjuangan, sebagaimana Rosululloh Saw berhadapan dengan musyrikin Quraisy. Apa kita mau memilih pola perjuangan yang lain dari itu. Ahmadiyyah, mengaku penerus Muhammad Saw, tapi membatalkan jihad dan berwala kepada Inggris ? Berkoar-koar jadi Khalifah bagi muslimin dunia sebatas rohani, tapi jasmani boleh saja diatur negara masing-masing, apapun asas hukumnya, beginikah dulu Nabi Saw mengelola ummat ?

Renungkanlah baik-baik ..!!

Sunday, July 04, 2004

Bismillahirrohmanirrohiim,

Teringat sabda Rosululloh Saw dalam sebuah haditsnya yang masyhur :

Bahwa kalian (dalam hal ini muslimin) akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke dalam lubang kadal sekali pun, niscaya kalian akan masuk juga ke dalamnya. Ketika itu para shohabat bertanya : "Apakah yang dimaksud adalah mengikuti Yahuhdi dan Nasrani ya Rosululloh ?". Rosul menjawab :"Ya! Siapa lagi kalau bukan mereka ?". (HR. Muslim).

Memperhatikan gerak tingkah muslimin zaman ini, mereka bukan lagi akan masuk lubang kadal, bahkan telah berada di dalamnya! Kita saksikan jutaan bahkan puluhan juta muslimin berbangga diri, berlomba-lomba mengikuti gaya hidup yang ditawarkan mereka. Mulai dari cara berpakaian, upacara perkawinan, pola pergaulan, hingga pengelolaan masyarakat dan tata hukum bernegara. Semuanya mengacu pada barat yang kini didominasi pemikiran Yahudi dan Nasrani!

Apakah Islam tidak memiliki kaidah tersendiri dalam semua itu ? Cara berpakaian islam, cara perkawinan Islam, pola pergaulan Islam, bahkan tata cara bernegara Islam ? Ada, tapi justru itu yang kini ditinggalkan masyoritas muslimin. Mereka lebih suka berlomba-lomba memasuki lubang kadal dan "beribadah" di dalamnya.

Kondisi yang lama, berbelas bahkan berpuluh tahun terkungkung di lubang kadal, semenjak lahir hingga dewasa, memang membawa pengaruh besar pada cara berfikir dan sikap mental seseorang. Wajar bila suatu saat seorang muslim (yang pasti beragama Islam) bila dihadapkan pada rumah Islam sendiri ia akan tercengang, waspada dan memasang sikap melawan. Mengapa ? ia tidak menyangka bahwa bisa ada kehidupan lain di laur lubang kadal yang lama ditinggalinya. Ia takut dan menganggap itu berbahaya. Tidak banyak orang yang cukup beruntung untuk bisa meninggalkan lubang kadal dan enak hati melangkah menuju rumah Islam yang memang cocok untuknya.

Saya (penulis), adalah satu dari sekian banyak orang yang sempat belasan tahun tumbuh dan berkembang di lubang kadal tadi. Alhamdulillah, hidayah Alloh berhasil menuntut pribadi saya keluar, untuk berkiprah dan berbuat dalam naungan Rumah Islam yang dibuatkan pendahulunya. Merasa diri tidak hidup sendiri, serta teringatkan pada ajakan pendahulu saya kepada diri jahil saya di lubang kadal untuk keluar, maka ingin pula pribadi ini menjadi salah seorang penanam benih baru bagi Islam dan menolong saudara-saudara muslim lainnya untuk keluar dari jeratan lubang kadal tadi. Salah satunya adalah melalui dakwah virtual seperti ini.

Kendati demikian, kebiasaan berpikir dan memandang, seperti yang lazim dimiliki para penghuni lubang kadal, belum sepenuhnya hilang dari pikiran saya pribadi. Masih diperlukan beberapa arahan untuk memperbaikinya. Sehingga bila saudara saudari pembaca mendapati kelemahan di dalam diri saya dan tulisan-tulisan saya, maka Alloh dan Rosul-Nya, begitu pula kehormatan Islam tidaklah tercela karena kekeliruan yang saya perbuat. Dan menjadi tugas saudara saudari pembaca lah selanjutnya untuk memperbaiki kesalahan itu.

"Katakanlah:"Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhan-ku kepadaku.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Q.S. Saba : 50).

Saya pernah mendengar nasihat dari seorang ikhwan, beliau bertutur : "Melangkahlah, tuliskan apa yang berkembang dalam pikiranmu. Justru dengan itu akan lebih mudah bagimu untuk membenahi dan memperbaiki. Sebab ia tergelar, dipapar secara abjadiyyah. Jika itu semua hanya tersembunyi di balik batok kepala, maka siapa akan tahu ? Boleh jadi engkau pun tidak akan pernah sadar bila ada yang salah dalam tata pikiranmu ...".

Barangkali tergerak oleh itu, Saya hendak memaparkan beberapa tulisan pribadi ataupun yang saya ambil dari kutipan tulisan lain dan merasa perlu untuk lebih dipublikasikan dalam arena dakwah maya yang masih dalam ruang lingkup sangat terbatas ini. Tapi insyaAlloh, berangkat dari niat yang bersih ingin menjadi bagian dalam arena perjuangan umat Islam dunia, di Indonesia khususnya, penempatan dakwah di dunia maya seperti ini dapat menjadi nilai tambah dan khazanah Islam baru yang bermanfaat bagi lajunya penderasan dakwah Islam, membawa muminin keluar dari lubang kadal.

Anda bebas untuk setuju ataupun tidak setuju dengan apa yang saya paparkan melalui tulisan-tulisan saya. Sepanjang penerimaan dan penolakan tadi didasarkan pada tanggung jawab moral dan ilmu. Pemaparan tulisan ini menjadi arena yang luas untuk tawashou bil haqq dan tawashou bish shobri.

Saya menyadari, apa-apa dari faedah maupun mudhorot yang bersinggungan dengan jalan dakwah ini yang tidaklah mudah untuk dipikul ketika semua itu tiba sebagai penguji diri. Oleh sebab itu, beriringan dengan tawakkal kepada Alloh dan permohonan ampun yang ditangan-Nya lah hidup dan mati sebagai ujian, siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Q.S. Al-Mulk : 2).

Terakhir, penulis dalam penutup uraian ini ingin mengajak saudara saudari pembaca (umat Islam) untuk bersama-sama tawakkal dan memanjatkan do'a kepada Sang Kholiq, Alloh azza wa jalla...

Yaa Alloh, kami tidak risau tentang berapa lama lagi kami bisa hidup bebas dan bertahan, yang kami takutkan hanyalah kemampuan kami dalam memegang teguh amanah iman ini. Ya Alloh, jangan matikan kami sebagai seorang pengkhianat, jangan matikan kami dalam keadaan lari dari tugas jihad, jangan matikan kami sebagai orang-orang yang hina menyerah kepada musuh. Matikanlah kami dalam tugas di jalan-Mu, baik ketika berjaya maupun sedang berjuang, sebab itulah satu-satunya keberuntungan yang besar.

"Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar." (Q.S. An-Nisa : 74).

Yaa Robbunaa, Malikunaa wa ilahunaa ... di tangan-Mu lah nilai akhir kehidupan kami. Kami lakukan semua ini, melawan ketakutan dan rasa cemas, memberanikan diri berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari kemampuan kami, semata-mata berharap Engkau ridho di ujung hayat kami ...

aamiin ya Robbal `alamiin.

Wednesday, May 26, 2004

"Yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak sekutu bagi-Nya dalam kerajaan(-Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (Q.S. Al-Furqon : 2)

Jelas keterangan yang Alloh tegaskan pada ayat Al-Qur`an di atas, bahwasanya seluruh alam semesta ini, yakni langit dan bumi merupakan bagian dari kerajaan Alloh. Kita (manusia) baik disadari ataupun tidak tengah tinggal dan memijakkan kaki kita di dalam bagian kerajaan Alloh tersebut (bumi). Sikap yang baik bagi manusia, khususnya umat Islam adalah; menjadi warga kerajaan-Nya yang tho`at, atau menjadi aparatur kerajaan Alloh yang amanah!

jika ada sekelompok manusia yang mengklaim diri mereka menguasai atau berkuasa di suatu wilayah (bumi). Kemudian memaksa orang-orang yang tinggal di daerahnya mentho`ati hukum dan aturan yang mereka buat sendiri. Mengelola sumber daya alam yang terkandung di dalamnya untuk kelancaran roda pemerintahannya, maka sebetulnya yang demikian itu, mereka tengah membuat suatu kerajaan kecil di tengah-tengah kerajaan Alloh yang Mahabesar.

Mereka telah melakukan tindakan melebihi kapasitas sebagaimana semula mereka direncanakan (wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya`budununi). Sebagai sikap istighna(merasa mampu, merasa bisa mengelola sendiri, tidak merasa perlu dengan bimbingan Ilahi) dan inilah yang melahirkan rasa thogho(melampaui batas -lihat Q.S. 96:6 - 7-). Bila rasa thogho ini dikukuhkan dan terstrukturisasi, menjelmakandirinya jadi hukum atau hakim yang memberi nilai atas tindakan manusia, maka ini disebut thoghut (Q.S. 4:60). Rosul diperintahkan untuk mengajak manusia menjauhi thoghut sebagai syarat kesempurnaan ibadah kepada Alloh (Q.S. 2:256-257, Q.S. 16:36).

Negara-negara yang memberlakukan hukum sendiri di luar hukum Islam adalah hadir sebagai wujud nyata pengingkaran atas otoritas Alloh mengatur bumi milik-Nya ini (lihat Q.S. 5:44,45&47). Wajar bila Alloh menjanjikan siksa bagi siapa saja yang berwala kepada negara semisal itu (Q.S. 4:144). Sebab berada setia terhadap negara dan pemerintahan yang menolak undang-undang Alloh, adalah bukti kemenduaan dalam urusan hukum, sehingga betapa pun tho`atnya ia melaksanakan aturan Alloh ketika sholat, namun keterlibatannya dalam bertahkim kepada hukum selain hukum Alloh di luar sholat (Q.S. 4:60), jadi noda atas tauhidnya. Inilah yang dinamakan musyrik hukmiyyah dari segi hukum dan musyrik mulkiyyah bila dilihat dari segi kelembagaannya.

Cinta Nabi Saw kepada ummat terbukti dengan upaya beliau saw membersihkan jiwa ummah untuk mengutuhkan tauhid setiap selesai sholat. Setelah mereka membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, dianjurkan mereka membaca :"Laa ilaha illallohu wahdahu laa syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa `ala kulli syaiin qodir" (Tiada yang diibadahi selain Alloh, tidak ada saingan bagi-Nya, untuk-Nya saja kerajaan, sebagaimana bagi-Nya pula pujian, sebab Dialah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu). Kiranya dengan dzikir ini, setiap muslim warga darul kuffar, meninjau kembali relevansi ucapan dengan status kewarganegaraannya, adakah ia selaras atau malah justru bertabrakan ...

Begitu juga orang yang menjadi tamu Alloh, berhaji ke tanah suci. Baru syah mereka diterima sebagai tamu Alloh, bila ketika menunaikan ibadah haji tersebut diawali dengan membaca talbiyyah :

Labbaika Allohumma labbaik, Labbaik la syarikalaka labbaik, Innal hamda, wanni`mata laka walmulka lasyarikalaka labbaik ...

Ini saya memenuhi panggilan-Mu ya Alloh, Ini saya memenuhi panggilan-Mu ya Alloh, tidak ada tandingan bagi-Mu ya Alloh. Sesungguhnya pujian, nikmat hanya bagi-Mu, begitu pula kerajaan hanyalah untuk-Mu ya Alloh tak ada tandingan bagi-Mu, inilah saya ya Alloh ...

Artinya, baru mereka diterima sebagai tamu Alloh yang terhormat, bila datang sebagai warga kerajaan-Nya ayng utuh dan setia, tidak mendukung pemberontak apalagi menjadi kepala pemberontakan terhadap kerajaan Ilahi di muka bumi!

Sayang sekali kemurnian tauhid seperti ini sudah jarang dihayati kaum muslimin, hingga banyak kepala negara yang di tanah airnya memimpin pemerintahan non hukum Islam, bahkan sedang gigih-gigihnya memusnahkan Daulah Islamiyyah berjuang, membunuh para mujahid dan menawan mereka, tapi dengan lugu dan polos, tanpa rasa berdosa, berangkat juga dia ke tanah suci dan berdusta kepada Alloh dengan talbiyyah yang diucapkannya berulang-ulang sambil meneteskan air mata ...

Akibat tidak memahami kandungannya, atau memang sengaja tidak mau tahu, karena ke haji pun hanya siasat politik uantuk menarik simpati rakyat belaka. Wallohu`alam, mana yang benar di antara dua kemungkinan tadi.

Menyinggung pada permasalahan yang aktual dari kalangan rakyat Indonesia (termasuk umat Islam yang berlindung di bawah naungannya) yang tengah sibuk dengan pemilu presiden dan wakil presidennya, dan berharap dengan kepemimpinan yang baru itu dapat menghasilkan pemerintahan yang syah (demokratis) , bersih (reformis) , dan berwibawa. Saya kemukakan dalam tulisan ini bahwa ada permasalahan mendasar untuk direnungkan terlebih dahulu, yaitu bagaimana status negara itu dalam pandangan Alloh ? Mengapa harus ngotot menuntut dan memperjuangkan berdirinya suatu pemerintahan yang syah, bersih, dan berwibawa bila ternyata semua cerita itu hanya berkisar di darul kuffar!

Bagi yang hatinya tersinari ayat, daripada mumet memikirkan absyah dan tidak absyahnya pemerintahan di darul kuffar, menuntut keadilan dan pemerataan kemakmuran. Ia lebih suka berbuat dan berkerja untuk negara yang didirikan untuk bertaqwa (usisa `alat taqwa). membenahi sesuatu yang sejak awal berdiri tidak diajangkan tidak untuk memberlakukan hukum Islam, bahkan menghapus tujuh kata yang mewajibkan berlakunya syariat bagi ummat Islam, hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memang tidak mengkonsentrasikan diri untuk dihukumi oleh undang-undang Ilahi di dunia.

Termasuk bagi mereka yang mengkhayal dapat mengubah sistem bathil dengan kaidah dakwah ilal haq bil bathil (hendak menegakkan Islam dengan cara demokratis yang kufur), ataupun entah dengan cara apa tetapi amsih tetap bermimpi dapat 'mengubah' sesuatu yang tidak mungkin diubah selain dilenyapkan, hanyalah sebatas angan-angan manis belaka, hasil tipuan fatamorgana demokrasi ayng memang menjadi alat yahudi dan nashoro untuk mengembalikan umat Islam kepada millah mereka.

Mengapa demikian ? .... lebih jelasnya insyaAlloh akan saya kupas dalam ruang lingkup fungsi dan peranan Negara serta kedudukannya.

Wallohu`alam bi showab.

Monday, January 19, 2004

Bismillahirrohmanirrohim,

Sering terdengar pihak-pihak yg mengatakan :"Kita effektifkan dakwah di sini, kita perbaiki orang-orangnya, sehingga kalau Islam telah menyentuh seluruh ruangan kantor pejabat, bergema di tiap gedung pemerintahan. Maka keputusan yg islami dengan sendirinya akan mengatur negeri ini. Inilah upaya kita dakwah fisabilillah bil hikmah ...Bukan menimbulkan permusuhan sebangsa dan membangkitkan rencana kekerasan. Islam itu damai, bawakanlah ia dengan damai, sejuk, dan lembut ..."

Sebuah pernyataan yg indah, satu impian yang manis .... Janji perubahan tanpa pertumpahan darah dan chaos (kekacaun). Sungguh merupakan puncak harapan manusiawi ... Saya pun sangat menginginkan itu terjadi, andai bisa terjadi ....

Kalau saja saya tidak melihat sejarah, kalau saja Qur`an tidak mendahului saya mengingatkan, tentu saya pun terbuai janji ideal di atas, kemudian mencukupkan diri berdakwah dari mimbar ke mimbar, seraya berharap semua orang segera bersedia menempuh jalan hidayah, agar impian tadi segera terjadi ...

Kapan mimpi itu terbukti ?? Jawab mereka kapan-kapan ...mungkin seratus tahun, mungkin dua ratus tahun, atau kapan sajalah, yg penting optimis sejak dini, toh yg diminta Alloh bukan hasil, tapi usahanya yg diminta. Usaha kita adalah dakwah, terus tak bosannya menyeru manusia walaupun harus 950 tahun seperti usia dakwahnya Nabi Nuh as.

Pernyataan di atas benar dan patut dipuji bila dilihat semata dari sisi keuletan dakwah, namun ternyata kita tahu sendiri, bahwa menurut sunnah, yg dilakukan nabi bukan sekadar dakwah, tapi juga pembinaan warga Islam. Bukan sekadar dakwah, namun juga menata wilayah mencari tempat untuk tegaknya Dienul Islam. Tidak hanya membangun ummat tapi juga membina tentara untuk membela dakwah. Tidak hanya mengangkat Mushab bin Umair ra sebagai juru dakwah, tapi pula mempebntuk aparat ke-amir-an (Imaroh). Bahkan pembentukan imaroh dilakukan lebih dulu seusai bai`at Aqobah II, Rosululloh Saw melepas personil mubayyi`un dengan kata-kata :

Idzhab wa anta amiruhum
Berangkatlah dan engkau amir mereka !

Mengapa ? Sebagai alternatif ...kalau orang lain tidak mau, maka harus ada kekuatan mu`minin terpimpin yg mau dan mampu menegakkan kitabulloh dan menjadikan hukum-hukum-Nya berlaku (jelas ini harus ditata dari awal). Sebab undang-undang Alloh harus berlaku tanpa menunggu persetujuan penduduk bumi, bukan mereka yang memiliki bumi, tapi Alloh yang menitahkan Qur`an! Kesadaran orang memang bisa ditunggu, tapi tegaknya hukum Alloh mendesak harus berlaku, sebelum kerusakan demi kerusakan di bumi bertambah ditingkahi nafsu angkara (Q.S. 23:71, Q.S. 30:41-43).

Kedua, apakah kita menunggu semua orang yang kafir itu (pelaksana hukum non wahyu menurut Q.S. 5:44) insyap dan sadar, kemudian secara sukarela mengganti hukum yg telah sekian lama berjalan dengan wahyu ? Indah sekali kalau bisa terjadi ...

Bagaimana dengan firman Alloh :" Sesungguhnya bagi orang-orang kafir itu, sama saja kalian beri peringatan, atau tidak diberi peringatan, mereka tidak akan beriman." (Q.S. 2:6).

Artinya akan ada dari sekian juta orang kafir itu, yang tidak bisa diapa-apakan lagi, mereka tetap membantu jadi kekuatan kontra aktif yang senantiasa menentang. Bahkan Alloh menegaskan, tidak akan pernah terjadi seluruh manusia di bumi beriman semuanya, betapa pun kita sangat menginginkannya! (Q.S. 12:103). Mereka harus dilawan, untuk mengahadapi mereka sejak sekarang kekuatan harus dibangun (Q.S. 8:60).

Qur`an memang menyuruh agar kepada orang kafir pun Al Qur`an tetap harus dijelaskan (Q.S. 13:30), namun untuk pelaksanaannya tidak harus menunggu mereka semua menyetujui, dengan cara berkerja sama runding satu majelis bersama mereka atau dakwah mimbar ke mimbar. Tanggung jawab melaksanakan Qur`an, bukan terletak pada pundak mereka, tapi pada kita!

"Wa anihkum bainahum bimaa anjalallohu, walaa tattabi` ahwaahum, wahdzarhum ay yaftuka `am ba`di maa anjalallohu ilaika..."

"dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (Q.S. 5:49).

Andai mereka tidak mau melaksanakan Qur`an, maka bukan berarti kita lepas tuntutan dengan tidak berlakunya Qur`an di bumi. Karenanya bukan semata dakwah yang harus dijalankan, tapi juga pembangunan struktural, persiapan, andai mereka yang diseru tidak mau, kita telah punya kekuatan buat menjalankannya. Supaya jangan dosa semuanya ....

Cuma berhenti atau tidak sama sekali menyusun kekuatan, karena mengharapkan negara non Islam berubah dengan sendirinya lewat diskusi, rundingan, dan sikap damai, bukanlah hal yg bijaksana (Q.S. 47:35). Iya kalau mereka mau, kalau tidak !?? Apa kita akan beralasan di akhirat sana :"Tidak jadi ya Alloh, habis merekanya sih tidak mau diajak bekerja sama ...".?

Mari kita berhenti pada 'andai' dan 'kalau'. Jangan kerja kita terhambat oleh sesuatu yang belum pasti. Syetan memang senantiasa membisik agar kita terlena dan menunda, syetan sadar suatu saat ia akan kalah oleh kekuatan mu`minin, karena itu ia hanya mengambil untung dari 'menunda kekalahannya'. Dibuatnya kita lambat-lambat bekerja, dibuatnya kita terbius propaganda ajarannya yang terlihat islami padahal millahnya yahudi nashoro, mengharap ini mengharap itu, akhirnya tidak ada yg dikerjakan selain perundingan, ceramah, dan perjanjian damai. Islam hanya jadi kata-kata janji yg diperjual belikan dengan pihak-piohak yg sudah nyata permusuhannya kepada Islam, tanpa pernah berubah jadi kekuatan yang ditakuti ... Na`udzubillahi min dzalik, aamiin...

Friday, January 16, 2004

Negara dan Peranannya

Negara adalah lembaga hukum tertinggi dalam suatu wilayah yang dengan segala perangkat kekuasaannya, memiliki kemampuan untuk memberlakukan suatu aturan, dan memaksa seluruh penduduk yang tinggal di dalamnya untuk tidak melanggar setiap peraturan yang telah diundangkan tadi.

Negara memiliki dasar falsafah dan hukum tertinggi yang menjadi pondasi berdirinya, setiap peraturan dan hukum yang berlaku mestilah selaras dan menjiwai asas dan hukum teringgi tersebut. Demikian pentingnya posisi dua hal di atas hingga dikokohkan sedemikian rupa, tidak mungkin berubah kecuali bila negaranya berubah pula. Sebab perubahan asas negara berarti merubah seluruh sistem hukum berarti pula memporak porandakan sistem nilai yang telah lama dianutnya.

Artinya, di mana saja anda menemukan suatu negara yang tidak berdasarkan Islam, maka sampai kapan pun, negara tadi tidak akan pernah memberlakukan Islam sebagai perundang undangan di dalamnya. Ia akan memberikan kebebasan dalam beberapa aspek ajaran Islam, tapi tidak bagi hukum perdata dan pidananya! Ini akan dipahami oleh siapa sajayang memahami hakikat sebuah negara.

Mereka yang tidak tahu makna negara seperti di atas, sering menyimpan harapan yang salah, berharap negara non Islam, bisa memberlakukan hukum Islam suatu saat, sebuah impian yang manis ...

Hakikatnya suatu negara, yakinlah bahwa hukum Islam hanya akan berlaku dalam negara yang berdasarkan Islam, sebagaimana perundang undangan yang berjiwa liberalis hanya akan terwujud di negara-negara liberal. Faham liberal mungkin saja dipeluk sebagian orang di bukan negara liberal, tapi cuma sebatas ajaran, tidak akan pernah mewujud menjadi undang-undang, sebelum negara tadi berubah jadi negara liberal, harap jelas!

Negara dan Pemerintahan

Negara atau Daulah berbeda dengan pemerintahan atau imaroh, seperi berbedanya rumah dengan keluarga. Atau bila dibandingkan dengan unit komputer maka negara ibarat perangkat kerasnya (hardware) sedang pemerintah adalah piranti lunaknya (software). Keduanya berjalin kelindan namun bukan berarti sama.

Negara adalah lembaga hukum tertinggi, organisasi yang memiliki otoritas untuk memberlakukan undang-undang, bersifat mengikat, effektif terhadap sosok manusia yang tinggal dan terikat kesetiaan dengannya. Adapun pemerintah adalah figur-figur manusia yang mengelola negara tadi, mengisi fungsi-fungsi organisasi yang ada di dalamnya.

Negara bersifat rigid (kaku), inhuman (bukan manusia), namun memberi bentuk dan warna masyarakat yang ada di dalamnya. Masyarakat dan seluruh manusia yang ada di dalamnya, mungkin saja memiliki variasi tingkah laku, pola-pola sikap tertentu, tetapi kebebasan memodifikasi sikap, pola hidup dan warna masyarakat tadi senantiasa beredar dan melingkar dalam asas yang telah digariskan negara tersebut.
Adapun pemerintah adalah manusia-manusia yang merupakan isi dari organisasi negara tadi. Merekalah para pelaksana yang mentransfer nilai-nilai negara yang rigid dan inhuman tadi tadi menjadi prilaku manusiawi.

Di dalam Islam ada tiga jenis negara : Darul Islam, Darul Kufar Harbi, dan Darul Kufar `Ahdi.

Dikatakan Darul Islam manakala negara tadi didirikan di atas asas Islam dan hukum yang tertinggi di dalamnya adalah Al Qur`an dan Haditsush Shohih. Tanpa memperdulikan apakah komposisi muslimin di dalamnya. Baik mereka termasuk minoritas, maupun mayoritas.

Adapun Darul Kufar adalah negara yang didirikan di atas dasar selain Islam (apapun namanya) dan tidak berhukum Al Qur`an dan Haditsush Shohih. Tidak peduli muslimin di dalamnya mayoritas ataupun minoritas. Bila Darul Kufar tadi tidak memerangi Darul Islam, bahkan menjalin perjanjian dengannya maka disebut Darul Kufar `Ahdi (Darul `Ahdi). Tetapi jika Darul Kufar tadi bersikap merugikan, mengganggu, merongrong apalagi menyerang Darul Islam, maka ia berubah menjadi Darul Kufar Harbi (Darul Harbi).

Darul Islam diwajibkan menjaga perjanjian dengan Darul Kufar manakala telah terjadi perjanjian damai antara keduanya, kecuali apabila kebijakan Darul Kufar tadi berubah merugikan Islam. Maka pihak Darul Islam wajib mengembalikan perjanjian tersebut dengan cara yang jujur dan tidak boleh mengkhianati secara sepihak atas perjanjian yang telah dibuat tersebut (Q.S. 8:58). Bila Darul Kufar merusak perjanjian atau menyerang agama dan negara Islam, maka wajib seluruh mukallaf yang ada di dalamnya untuk menunaikan kewajiban suci membela Darul Islam tadi.

Di dalam Darul Kufar mungkin saja dipimpin oleh pemerintahan yang syah, bersih, berwibawa, atau bahkan sebaliknya. Jalannya roda pemerintahannya itu terkait atas landasan asas dan falsafah dari negaranya itu. Yang jelas apapun status pemerintahannya, maka Darul Kufar akan berakhir di neraka!

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya kelembah kebinasaan, yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya.Katakanlah:"Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka"(Q.S. 14:28-30).

Mengapa demikian ? Sebab Darul Kufar adalah wujud nyata pembangkangan terhadap kekuasaan Alloh. Dimana negara sebagai lembaga hukum tertinggi, justru tidak dijadikan sebagai sarana untuk menegakkan undang-undang Ilahi di muka bumi. Sebagai mu`minin tentu akan gerah hati, tak betah memposisikan diri sebagai warga negara suatu negara yang kehadirannya jusru merupakan wujud nyata dari kekufuran.

Dari itulah mengapa secara sukarela mu`minin memilih hijrah (ma`nawiyah) dari kelakuan jahiliyyah akibat keterikatannya dengan sistem jahiliyyah (kepemimpinan Abu Jahal) kepada sistem Islam (kepemimpinan Muhammad Saw), mengganti status diri dari ummat (warga) negeri Mekkah menjadi ummat yang tho`at kepada Muhammad Saw, serta hijrah (makaniyah) dari tanah Mekkah ke Yatsrib (Madinah), meninggalkan segala ikatan emosional terhadap negara asalnya, demi keutuhan iman mereka.

Mengikuti petimbangan rasa, keburu cinta tanah air (negara yg membesarkannya), hingga betapa pun negara tadi menolak hukum Islam tetap saja dibelanya habis-habisan, disinyalir sebagai kecintaan terhadap tempat tinggal (negaranya) melebihi kecintaan pada Alloh, Rosul, dan jihad. Sikap yang demikian justru akan menghambat keberlangsungan petunjuk dan mengundang siksa (Q.S. 9:24). Na`udzubillahi min dzalik.

Thursday, January 15, 2004

Negara bagi Mu`minin

Bagi mu`minin, kehadirannya di tengah-tengah masyarakat bukan sekadar nimbrung ikut bergaul, bukan pula sekadar ingin punya tetangga. Tapi sesuai dengan janji sucinya : 'Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Robbil`alamiin' (Q.S. 6:162), semata-mata ingin menyerahkan segalanya tadi, mulai dari sholat dan ibadah, hingga hidup dan mati adalah murni dipersembahkan dan berada di bawah pengaturan syariat Ilahi. Di dalam hidup tentu isinya bukan sekadar sholat dan ibadah ritual lainnya saja, termasuk berkeluarga, bermasyarakat, berhukum, dan bernegara hingga berhubungan internasional. Nah, kesemuanya itu dalam cita-cita luhur seorang mu`min ingin agar 'Lillahi Robil`alamin, ma`alloh, billah, ilalloh' (karena Alloh semata, disiplin dan optimis sebab diri tidak bekerja sendiri tapi bersama Alloh dan selalu diawasi Ilahi, dengan aturan Ilahi, menuju Alloh yang Mahaabadi). Hanya ini saja keinginan mu`minin.

Dari itu, ketika berbicara tentang pengelolaan masyarakat, pengorganisasian masa dalam lembaga yang memiliki tertib dan daya paksa hukum, maka pilihan mu`minin, selalu didasarkan pada cita-cita mulia tadi. Mereka akan memilih mana yang menyelamatkan keutuhan Islam sebagai 'Dien' yang diamanahkan kepadanya. Dan wajar bila mereka tidak memilih negara yang tidak melindungi keutuhan wujud Islam sebagai Dien yang integrated (kaffah). Orang mungkin bisa merayu dengan berbagai dalih, tapi siapa yang akan membela kita bila Alloh tidak ridho atas pilihan kita yang terlanjur keliru ? (Q.S. 45:18-20).

Mereka tidak jor-joran mencari kekuasaan semata-mata asal berkuasa, mereka hanya ingin agar negara itu jadi alat bagi sempurnanya ibadah kepada Alloh. Namun justru karena keinginan yang sederhana ini, mu`minin di belahan bumi mana pun yang dikuasai Darul Kufar, senantiasa jadi musuh yang diburu (Q.S. 85:8). Iltizam pada kerajaan Ilahi, memang berisiko tinggi, tapi itulah jejak para Nabi! (Q.S. 85:9).

Jadi, mana negara bagi mu`minin ? hati anda sudah bisa menjawabnya. Mana saja yang didirikan untuk bertaqwa, yang jadi alat bagi bagi berlakunya hukum Alloh, yang menjadi wadah effektif bagi undang-undang Islam. Dan jelas itu bukanlah Darul Kufar!

Negara Saba sebuah Kasus

Negara Saba adalah sebuah negara merdeka di bawah pemerintahan yang syah dipimpin oleh seorang wanita (Ratu Balqis) berwawasan luas dan begitu demokratis (Q.S. 27:32-33). Namun ia bukanlah Darul Islam yang membawa ummat ke Darus Salam, namun sebuah Darul kufar yang mengakarkan ideologi negaranya pada pengagungan matahari (Q.S. 27:23-24) sebagai alasan untuk tidak berhukum, mengabdi, dan berbakti mengikut aturan Ilahi (Q.S. 27:24-25). Sistem yang berlaku di sana menghalangi mereka dari utuhnya mendapat petunjuk wahyu serta tercegah dari menerima Islam sebagai aturan hidup (Q.S. 27:43).

Negara tersebut tidak memerangi Darul Islam yang dipimpin Nabi Sulaiman as, hingga Nabi pun tidak menyatakan perang kepadanya. Akan tetapi terpanggil oleh kewajiban dakwah, maka risalah dakwah Islam tetap dilakukan beliau as melalui sepucuk surat yang dikirimkan melalui Hud-Hud. Kisah berlanjut hingga pada akhirnya dua kepala negara tadi dipersatukan Alloh lewat pernikahan, jadilah kedua negara itu 'baldatun thoyyibatu wa Robbun ghofur' (Q.S. 34:15). Andai negara Saba tetap dalam ideologi yang bersumber dari kesaktian matahari seperti anggapan mereka tadi, maka kestabilan negara dan keabsyahannya tadi, dalam pandangan Alloh tidak lebih dari sekadar berkubang dalam kekafiran (Q.S. 27:43) dan kedzoliman (Q.S. 27:44).

Jangankan dalam pandangan Alloh Al Hakim, dalam pandangan seekor burung saja, betapa pun makmur dan demokratisnya sebuah Darul Kufar, tetap diyakini sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai apa pun di akhirat! (Q.S. 27:22-26). Sungguh menyedihkan ... hari ini justru banyak para ulama, lebih terpikat untuk tinggal (memposisikan diri sbg warga sebuah Darul Kufar) dan membangun Darul Kufar, demi melihat kemajuan pembangunan dan kekokohan strukturalnya, daripada menyingsingkan lengan baju bekerja dan berjuang membangun negara yang diasaskan nilai-nilai Islam. Ternyata masih kalah jeli dengan seekor burung dalam melihat hal-hal yang hakiki ....

Sepeninggalnya Nabi Sulaiman as (Q.S. 34:15), keadaan negeri Saba kembali pada keingkarannya (Q.S. 34:16). Timbul lah bencana yang menenggelamkan negeri tadi. Na`udzubillahi mindzalik.

Insya Alloh sedikit kisah singkat Negeri Saba di atas bisa memberikan gambaran pada setiap hamba Alloh tentang bagaimana pentingnya nilai sebuah negara yang akan dibela dalam pengaruhnya terhadap nilai-nilai pribadi kita di hadapan Ilahi, aamiin.